Rabu, 13 Mei 2020

FIKSIONALITAS DAN KARYA SASTRA ALIRAN



Prosa dalam pengertian kesastraan juga disebut fiksi, teks naratif atau wacana naratif. Fiksi berarti cerita rekaan atau cerita khayalan, sesuatu yang tidak ada dan terjadi sungguh-sungguh sehingga ia tak perlu dicari kebenarannya pada dunia nyata. Novel dan cerita pendek (cerpen) merupakan dua bentuk karya sastra yang sekaligus disebut fiksi .Perbedaan antara novel dan cerita pendek dilihat dari segi formalitas bentuk,dan segi panjang cerita. Novel dan cerpen sebagai karya fiksi mempunyai kesamaan, keduanya dibangun oleh unsur-unsur cerita yang sama Novel dapat mengemukakan sesuatu secara bebas, menyajikan sesutu secara lebih banyak, lebih rinci, lebih detail dan lebih banyak melibatkan berbagai permasalahan yang lebih kompleks sedangkangkan Cerpen menuntut penceritaan yang serba ringkas, tidak sampai kepada detil-detil khusus yang “kurang penting” yang bersifat memperpanjang cerita..

Ø  Unsur-unsur Fiksionalitas dalam Prosa Fiksi dan Penerapannya

1. Unsur-unsur fiksionalitas dalam prosa fiksi:
a.    TemaAlur/plot
b.     Latar/setting
c.    Tokoh dan penokohan
d.    Gaya
e.    Sudut pandang
f.     Amanat

2. Hubungan antar unsur tersebut   
a.    Tema
tema merupakan gagasan dasar yang merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung didalam teks sebagai struktur semantis dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan. Sedangkan menurut Aminuddin (1987 : 91), untuk memahami tema, pembaca terlebih dahulu harus memahami unsur-unsur signifikasi yang membangun suatu cerita menyimpulkan makna yang dikandungnya, serta mampu menghubungkannya dengan tujuan penciptaan pengarangnya.
b.       Plot/Alur
Plot/Alur merupakan unsur cerita fiksi yang penting, bahkan tak sedikit orang yang menanggapinya sebagai yang terpenting diantara berbagai unsur cerita fiksi yang lain. Stanton (dalam Nurgiyantoro, 2005 : 113) mengemukakan bahwa Plot / Alur adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain.
c.        Latar / Setting
Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2005 : 216) setting atau latar disebut juga sebagai landas tumpu, mengarah pada pengertian tempat, waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.
d.      Tokoh dan Penokohan
Peristiwa dalam karya fiksi seperti halnya peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, selalu diemban oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu. Pelaku yang mengemban peristiwa mampu menjalin suatu cerita disebut dengan tokoh atau pelaku-pelaku tertentu. Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa mampu menjalin suatu cerita disebut dengan tokoh. Sedangkan cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku itu disebut dengan penokohan (Aminuddin 1987 : 79).
e.       Gaya
Gaya erat kaitannya dengan ekspresi karena jika gaya adalah cara dan alat seorang pengarang untuk mewujudkan gagasannya, maka ekspresi adalah proses atau kegiatan perwujuadan itu sendiri. Sebab itulah gaya dapat juga disebut sebagai cara, teknik maupun bentuk pengekspresian suatu gagasan.
f.       Sudut Pandang (Point Of View)
Point of view/sudut pandang adalah cara dan atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca.
g.      Amanat
Amanat adalah pesan moral yang ingin disampaikan oleh pengarang. Amanat utama harus merujuk pada tema. Pesan moral lainnya dapat ditemukan tersebar dalam cerita.
-          ingatan dan menjadi bagian kekayaan tiap individu dalam bentuk langue.

Aliran Karya Sastra

Aliran sastra pada dasarnya berupaya menggambarkan prinsip (pandangan hidup, politik, dll) yang dianut sastrawan dalam menghasilkan karya sastra. Dengan kata lain, aliran sangat erat hubungannya dengan sikap atau jiwa pengarang dan objek yang dikemukakan dalam karangannya

 Jenis –jenis Aliran Sastra                        

a.Aliran Klasik (al-Madzhab al-Kalasikiy)

Aliran ini muncul di Yunani sebelum memasuki abad ke-19,kemudian berkembang di Romawi yang selanjutnya menyebar luas ke eropa pada masa kebangkitan .

b.Aliran Romatisme (al-Madzhab al-rumantiqiy)

Aliran ini muncul di Prancis sebelum abad ke-19, atau setelah revolusi prancis. aliran ini selalu memperhatikan aspek keindahan, cenderung mengadakan pembaharuan dan kebebasan bepikir dan gaya bahasa yang diungkapkan.

c.Aliran Realisme (al-Madzhab al-Waqi’iy)

Aliran realisme dalam karya sastra selalu berusaha melukiskan suatu obyek seperti apa adanya. Pengarang realisme dapat diibaratkan sebagai seorang juru potret.

D.Aliran Simbolisme (al-Madzhab al-Rumziy)

Aliran ini muncul  di Prancis pada abad ke-19, syair dalam pandangan mereka adalah gagasan yang menghujam pada diri sastrawan kemudian diungkapkan dalam bentuk bahasa yang tidak transparan.

e. Aliran Barnasiyah (al-Madzhab al-Barnasiy)

Dalam sastra Arab, aliran ini masih mementingkan kaidah wazan,qafiyah dan gaya bahasa yang indah.

f.Aliran Idealisme (al-Madzhab al-Mitsaliy

Aliran ini banyak dipakai dalam falsafat, idealisme juga mengangankan suatu keindahan, hanya saja bukan materi yang menjadi tujuan , melainkan cita-cita atau harapan yang bersifat futuristik.

g.Aliran Naturalisme (al-Madzhab al-Thabi’iy)

Aliran ini cenderung untuk melukiskan kekurangan dan keperluan hidup manusia.

h.Aliran Eksistensialisme (al-Madzhab al-Wujudiy)

Aliran ini menjadi terkenal di Perancis yang dipelopori John Bole. S, yang menegaskan bahwa hakikatnya manusia adalah makhluk yang bebas, karena dia tidak diikat oleh aturan-aturan yang menghalangi kebebasannya.

i.Aliran Surrealisme (al-Madzhab al-Suryaliy)

Surrealisme adalah aliran yang melukiskan berbagai obyek dalam kesewaktuan. Bawah sadar manusia menjadi obyek seniman surrealis.



TEORI, KRITIK DAN SEJARAH SASTRA

Teori sastra dan sejarah sastra dalam karya sastra lebih mendekatkan pada pendekatan sejarah sastra yang tradisional. Adapun prinsip dasar sejarah sastra terdapat beberapa faktor yang relevan untuk sejarah sastra, penulisan sejarah sastra, dan sejarah sastra Indonesia.


A.      Teori sastra
Menurut bahasa, teori sastra adalah teori yang mempelajari kaidah-kaidah, hukum, kategori, kriteria yang menyangkut aspek-aspek dasar dalam teks sastra dan bagaimana teks tersebut berfungsi dalam masyarakat. Dan menurut istilah, teori sastra ialah cabang ilmu sastra yang mempelajari tentang prinsip-prinsip, hukum, kategori, jadi dapat diartikan bahwa adalah studi sistematis mengenai sastra dan metode untuk menganalisis sastra.
B. Kritik Sastra
Kritik sastra adalah bagian dari ilmu sastra. Istilah lainnya ialah telaah sastra, kajian sastra, analisis sastra, dan penelitian sastra. Istilah-istilah tersebut digunakan untuk menghindari kata kritik yang terkesan negative (terkesan menghakimi). Karena tampak dalam masyarakat kita masih belum terbuka hati dengan kata kritik. Kata kritik dianggap kata yang bermakna negatif karena menilai sesuatu dari sisi kekurangan dan kelemahannya, menghakimi seseorang atas kekurangannya sehingga orang yang dihakimi tidak dapat berkembang. Kata kritik dianggap sebagai suatu yang destruktif, bermakna tajam, dan menjatuhkan seseorang. Padahal sebenarnya pengertian kritik sastra tidaklah demikian. Seseorang yang terbuka hatinya untuk dikritik dia akan merasa bahwa dengan dikritik dia akan memperoleh masukan tentang kekurangan atau kelemahannya, bahkan juga keunggulannya. Dengan demikian ia akan berusaha memperbaiki kekurangan dan kelemahannya sehingga karyanya akan menjadi lebih baik dan ia akan menjadi orang yang sukses dalam bidangnya. Demikian halnya dengan pengertian kritik, khususnya dalam kritik sastra.[1] Terdapat kriteria yang digunakan dalam kritik sastra dimaksudkan agar hasil dari kritikan tersebut merupakan penilaian yang dapat dipertanggungjawabkan dan bukan hanya bersifat pendapat pribadi.[2]
C.  Sejarah Sastra
    Sejarah sastra bagian dari ilmu sastra yang mempelajari perkembangan sastra dari waktu ke waktu. Di dalamnya mempelajari ciri-ciri karya sastra pada masa tertentu, Dengan mempelajari sejarah sastra, kita dapat mengetahui perjalanan sastra dari waktu ke waktu sebagai bagian dari pemahaman terhadap budaya bangsa.Tugas sejarawan sastra bukan hanya sekadar mencatat, dan menginventarisasi karya sastra, tetapi tugasnya lebih dari itu. Sebagai suatu kegiatan keilmuan sastra, ia harus mendokumentasikan karya sastra berdasarkan ciri, klasifikasi, gaya, gejala-gejala yang ada, pengaruh yangmelatarbelakanginya, karakteristik isi dan tematik, periode-periode yang memuat karya-karya sastra, serta masalah lainnya yang menyangkut masalah sastra. Oleh karena itu, dalam mempelajari sejarah sastra tidak lepas dari teori dan kritik sastra.[3] Sejarah sastra mempunyai ruang cakupan yang cukup luas.
D. Hubungan antara teori, kritik, dan sejarah sastra
     Dalam konsep sastra ketiga aspek tersebut sangat berhubungan erat kaitannya, khususnya dalam pembelajaran sastra. Dalam mempelajari sastra kita dituntut mempelajari teori sastra terlebih dahulu, yang mencakup hakikat, unsur, dan penilaian terhadap karya sastra. Selanjutnya sejarah sastra yang merupakan kebenaran dari suatu karya sastra, karena jika suatu sastra memiliki sejarah yang jelas dan bukti yang kuat, maka karya sastra tersebut dapat diakui kebenarannya. Sedangkan hubungan kritik sastra dengan pembelajaran karya sastra yaitu, dimana kita menilai tentang bobot yang dimiliki suatu karya sastra, baik itu penilaian mengenai keindahan, kelebihan, dan kekurangan.[4]


[1] Yani, Sucidwi. “Hubungan Teori Sastra, Kritik sastra, dan Sejarah Sastra” , diakses dari http://sucidwiyani12.blogspot.com/2017/05/hubungan-antara-teori-sastra-sejarah.html, diakses pada tanggal 19 Febuari 2020 pukul; 20:00 WIB.
[2]  Luxemburg, “ Pengantar Ilmu Sastra” ,Terjemahan Dick Hartoko, (Jakarta: Gramedia, 1982) hlm. 26-32
[3] K.S. Yudiono, “Pengantar Sejarah Sastra Indonesia” , (Depok:PT RajaGrafindo Persada, 2005) hlm. 2-4

[4]Sampit, Remaja. “Hubungan antara teori, kritik,dan sejarah sastra” , diakses dari http://remajasampit.blogspot.com/2012/04/hubungan-antara-teori-sastra-sejarah.html, diakses pada tanggal 19 Febuari 2020 pukul ;19:30 WIB


Pendekatan karya sastra


Karya sastra merupakan komunikasi antara sastrawan dan pembacanya. Bentuk komunikasi itu berupa karya sastra. Apa yang ingin di ungkakan sastrawan kepada para pembacanya. Bentuk komunikasi ternyata melahirkan berbagai kejadian dalam teori sastra. Setiap kajian itu ada yang menitikberatkan kejadiannya pada diri sastrawan, ada juga yang menitikberatkan kajiannya pada kesusastraan antara karya sastra dan alam semesta.
   terdapat empat pendekatan dalam kajian sastra. Pendekatan sastra yang menitikberatkan pada karya sastra disebut pendekatan objektif. Pendekatan karya sastra yang menitikberatkan pada penulis disebut pendekatan ekspresif. Pendekatan kajian sastra yang menitikberatkan pada kajian terhadap semesta atau alam disebut pendekatan mimetik. Dan pendekatan kajian sastra yang menitikberatkan pada pembaca disebut pendekatan  pragmatik.


pendekatan merupakan alat untuk menangkap realita atau fenomena sebelum dilakukan kegiatan analisis atas sebuah karya. Dengan pendekatan, berarti seorang penulis, peneliti atau kritikus mempergunakan cara pandang, strategi intelektual, kerangka konseptual, kerangka pemikiran, paradigma dalam usaha memahami realita sebelum melakukan analisis intrepretatif terhadap sebuah teks puisi, novel, drama atau lainnya.
Adapun peran pendekatan sebagai:                              
-sebagai pemandu
-sebagai pembatas
-sebagai penjelas realita
 Berbekal pendekatan, seorang analis sesungguhnya memasuki kajian sastra dengan langkah dan cara berfikir secara terpadu, terfokus dan terhindarkan dari cara-cara spekulatif dan acak yang tidak sejalan dengan cara berfikir sistematis.

Istilah apresiasi berasal dari bahasa latin, apreciatio yang berarti mengindahkan atau menghargai. Dalam konteks yang lebih luas, istilah apresiasi menurut gove mengandung makna: 1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin, dan 2) pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. Sementara menurut S.Effendi , apresiasi sastra ialah kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh, sehingga menumbuhkan pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra (Aminuddin,2000:34). Pada akhirnya, seseorang akan mengetahui dan memahami unsur-unsur yang membangun karya satra, sehingga ia akan memberikan sebuah penilaian secara obyektif.
Berbagai pandangan pakar dalm bidang  Teori sastra dan pendekatannya dalam mengapresiaisi karya satra terdapat keanekaragaman. Abrams menyatakan, bahwa kekacauan dan keragaman teori lebih mudah dipahami dan diteliti, jika berpangkal pada situasi karya sastra secara menyeluruh. Ia memberikan kerangka yang sederhana, tetapi cukup efektif untuk menggambarkan empat istilah dasar dalam situasi karya sastra secara menyeluruh. Dan yang berpusat pada karya sastra . dalam kaitan ini, seperti yang dikutip oleh suwardi endaswara dalam bukunya “metodologi penelitian sastra: epistemology model teori dan aplikasi” (2003), dan partini sardjono pradotokusumo dalam bukunya “pengkajian sastra” (2005), abrams membagi pendekatan atau teori dalam mengapresiasi karya satra menjadi empat bagian. Namun perlu diketahui bahwa masing-masing pendekatan memiliki kelebihan dan kekurangan, semua tergantung kepada kepentingan si peneliti.


pendekatan ini meniti beratkan pada pengarang. Pendekatan ekspresif dalam mengapresiasi karya sastra merupakan model pendekatan yang jarang dilakukan. Pendekatan yang berupa kajian semi-psikologis ini mungkin kurang menarik dan atau dipandang kurang menguntungkan,. Karena peneliti yang mengguakn pendekatan in merasa kesulitan , jika harus berhubungan langsung dengan pengarangnya. mungkiN sekali pengarangnya telah tiada, atau jauh dari pembaca. Sebab, jika pendekatan ini hanya sekedar bersumber pada teks sering dianggap kurang lengkap.

2.      Pendekatan obyektif

   Pendekatan ini disebut juga dengan strukturalisme atau instrinsik, yaitu sebuah pendekatan yang menitiberatkan pada teks sastra semata. Strukturalisme, pada dasarnya merupakan  cara berpikir ttg dunia yang terstruktur. Dalam pandangan ini karya sastra diasumsikan sebagai fenomena yang memiliki struktur yang saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Kodrat struktur itu akan bermakna, apabila dihubungkan dengan struktur lain struktur tersebut memiliki bagian yang kompleks, ssehingga pemaknaan harus diarahkan kedalam hubungan antar unsur secara keseluruhan.
 
Pendekatan ini menghubungkan karya sastra dengan alam semesta(dalam istilah abrams disebut universe). Universe alam semesta ini berkaitan dengan aspek dan masalah yang cukup luas dan rumit, tidak hanya menyangkut masalah ilmu sastra, tetapi juga antara filsafat dan psikologi, dan sosiologi dengan segala aspeknya 

Pendekatan ini meniti beratkan pada pembaca sastra. tokoh utama dalam ilmu sastra yang menekankan peranan pembaca adalah hans Robert jauz. Menurutnya, para peneliti sastra telah menghilangkan factor yang terpenting dalam proses semiotic yang disebut kesusastraan, yaitu factor pembaca yang merupakan factor mendasar dan menentukan dalam sastra, kesejahteraan sastra, dan sifat komunikasinya yang menggambarkan suatu hubungan dialog dan proses antara karya, pembac,dan karya baru. Oleh sebab itu, estetik produksi dan mimetic harus diperluas dengan esthetic tanggapan dan efek yang menjadi kata kunci dalam kalangan ahli sastra.
   Pembaca menilai, menafsirkan, memahami, dan menikmati karya sastra untuk menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah dan estetis.


Selasa, 12 Mei 2020

SASTRA DAN BIDANG LAINNYA


Sastra adalah suatu kegiatan kreatif yang menjadi alat untuk menyampaikan pesan dan perasaan manusia kepada orang lain atau kepada para pengamatnya. Bentuk karya sastra menjadi beragam, seperti puisi, buku novel, lagu, lukisan, sketsa, dan lain-lainnya. Sastra dan kehidupan tidak dapat dipisahkan. Sebagaimana dalam perkembangannya sastra selalu menghadirkan hidup dan kehidupan dalam masyarakat. karya sastra berbeda dengan teori-teori, tidak hanya  berbicara kepada intelek pembacanya melainkan secara keseluruhan kepribadiannya. Dalam hal ini, karya sastra dapat dikatakan sebagai bagian integral yang penting dari proses sosial dan kebudayaan. Macam-macam karya sastra meliputi puisi, roman, novel, drama, dan cerpen. Mempelajari dan meneliti karya sastra terdapat unsur-unsur pembangun, baik unsur intrinsik maupun unsur ekstrinsik. Dalam hal ini, sastra dan bidang lain banyak terkait dan menjadi cabang keilmuan yang baru seperti psikologi sastra, disini saya akan menjelaskan sedikit mengenai sastra dan bidang lain.




SASTRA DAN BIDANG LAINNYA

  1. Sastra dan Budaya
Budaya dan sastra memunyai ketergantungan satu sama lain. Sastra sangat dipengaruhi oleh budaya, sehingga segala hal yang terdapat dalam kebudayaan akan tercermin di dalam sastra. Masinambouw mengatakan bahwa sastra (bahasa) dan kebudayaan merupakan dua sistem yang melekat pada manusia. Jika kebudayaan adalah sistem yang mengatur interaksi manusia di dalam masyarakat, bahasa (sastra) adalah suatu sistem yang berfungsi sebagai sarana berlangsungnya suatu interaksi.
  1. Sastra dan psikologi
Psikologi turut berperan penting dalam menganalisis sebuah karya sastra dengan melihat dari sudut pandang kejiwaannya, baik dari sudut pandang pengarang, tokohnya atau karya itu sendiri. Dengan demikian, adanya konflik batin dalam satu proses pembuatan karya sastra menarik untuk dianalisa menggunakan ilmu psikologi, dan pada akhirnya lahir ilmu baru berupa ‘Psikologi Sastra’. Dengan meneliti sebuah karya sastra yang dilakukan melalui pendekatan psikologi sastra, secara tidak langsung hal itu telah melibatkan ilmu psikologi. Jadi, pada dasarnya psikologi sastra adalah analisis pada teks dengan melibatkan pertimbangan relevansi dan juga peranan studi psikologis.
Bagaimana psikologi bercampur dengan karya sastra?
Ada pendapat dari  Rene Wellek dan Austin Warren ( 1993:81-93) serta Hardjana (1991:60) yang menyatakan bahwa psikologi bisa memasuki bidang sastra melalui beberapa cara yaitu:
  • Ketika dilakukan pembahasan mengenai proses penciptaan karya sastra
  • Adanya pembahasan secara psikologis mengenai pembuat karya tersebut baik sebagai pribadi maupun sebagai satu tipe
  • Adanya pembicaraan tentang kaidah psikologi yang bisa diperoleh dari karya sastra
  • Pembahasan mengenai pengaruh karya sastra terhadap pemirsanya.
Bagaimana memahami hubungan antara psikologis dengan karya sastra
Cara yang dilakukan untuk memahami hubungan antara psikologi dan sastra menurut Ratna (2004:343) adalah:
  • Memahami unsur kejiwaan pembuat karya sastra itu sendiri
  • Memahami unsur kejiwaan dari tokoh fiksi dalam sastra
  • Memahami kejiwaan para pemirsa karya sastra tersebut.
Karena karya sastra tidak dapat dilepaskan dari masalah penciptaan yang melibatkan berbagai macam masalah kejiwaan, maka untuk memahaminya perlu dilakukan dengan menggunakan dukungan dari ilmu psikologi. Psikoanalisis digunakan untuk menilai suatu karya sastra karena psikologi dapat menjelaskan suatu proses kreatif yang ada dibalik penciptaan suatu karya sastra. Dengan demikian, hubungan antara psikologi dan sastra adalah:
1. Menilai suatu karya dengan psikologi
Ilmu psikologi dapat digunakan untuk menilai suatu karya sastra karena dapat menjelaskan proses kreatif dibalik pembuatannya.
2. Menganalisis tokoh dalam karya sastra
Gunanya ilmu psikologi dalam kerya sastra lainnya adalah untuk menganalisa tokoh – tokoh yang ada dalam suatu drama atau novel secara psikologi, karena terkadang pengarang memasukkan teori psikologi yang diketahuinya ke dalam karya dan para tokoh ciptaannya walaupun secara sadar atau tidak.
3. Menganalisis jiwa pengarang
Pengarang memiliki jiwa yang berkaitan dengan karyanya sendiri. Ilmu psikologi dapat digunakan untuk menganalisa bagaimana keadaan jiwa pengarang pada saat ia membuat karyanya tersebut. Hal ini melibatkan pelacakan riwayat hidup pengarang karena anggapan bahwa peristiwa masa kecil akan turut mempengaruhi masalah kejiwaan dan proses penciptaan sang pengarang.
4. Menganalisis tema utama
Suatu karya sastra dapat dianalisis tema utamanya melalui pendekatan psikologis, hal itu untuk mendapatkan hasil analisis yang lebih tajam mengenai perilaku dan watak para tokohnya. Dengan menggunakan ilmu psikologi, tema utama suatu karya bisa dikupas secara mendalam untuk memahami karya sastra secara keseluruhan.
5. Menalar perilaku tokoh cerita
Dalam menganalisis watak para tokoh dalam suatu karya sastra, perlu dicari secara nalar mengenai perilaku tokoh – tokohnya. Untuk mengetahui apakah perilaku para tokoh dapat diterima atau sesuai dengan norma umum, menjelaskan motif dan niat para tokoh untuk melakukan tindakan tertentu dalam suatu karya. Jika kita meneliti satu tokoh maka kita mesti mencari penalaran yang tepat akan setiap tindak tanduk para tokoh tersebut untuk mengetahui latar belakangnya.
6. Mengetahui motif penciptaan
Suatu karya sastra diciptakan dengan motif tertentu dibaliknya. Motif penciptaan tersebut  harus diketahui dengan benar dan tepat untuk memahami satu karya sastra. Perlu dilihat apakah penciptaan disebabkan oleh endapan pada pengalaman batin pengarangnya atau adanya keinginan yang tidak terpenuhi yang menjadikan suatu kekecewaan akan satu hal yang disalurkan lewat tulisannya. Misalnya, seorang penulis yang mempunyai kondisi tubuh lemah dan mudah sakit – sakitan, menciptakan tokoh yang kuat, berani dan tangguh dalam salah satu karyanya.
7. Mengkaji konflik pada suatu karya
Adanya konflik pada satu karya sastra berkaitan dengan perwatakan dan alur cerita yang perlu mendapatkan perhatian dan kajian secara menyeluruh untuk memahami karya tersebut. Menganalisis konflik melibatkan analisa apakah konflik yang terjadi pada dalam diri tokoh cerita, konflik dengan tokoh lainnya atau konflik dengan situasi yang berada di luar diri sang tokoh. Beberapa artikel menarik yang perlu Anda ketahui antara lain kode etik psikologi, teori psikologi industri, dan teori hubungan interpersonal dalam psikologi.
8. Menganalisa pengaruh karya sastra
Suatu karya sastra tentunya akan mempunyai pengaruh terhadap pembacanya, dan yang perlu dianalisa adalah apabila pengaruh tersebut dapat meninggalkan kesan mendalam pada para pembacanya dan pada akhirnya menimbulkan dampak pada para pembaca.
Ø  Manfaat Psikologi Sastra    
Kegunaan mempelajari ilmu sastra dengan menggunakan pendekatan psikologis yang juga menjadi keunggulan dari psikologi sastra berasal dari manfaat mempelajari psikologi yaitu:
  • Mempertajam kemampuan untuk mengamati suatu karya sastra
  • Membantu mengasah kepekaan pada kenyataan yang ada
  • Memberi kesempatan penjajakan pola – pola yang belum pernah terlihat sebelumnya dalam suatu karya
  • Membantu studi tentang perbaikan naskah, koreksi yang dapat digunakan dengan tepat.
  • Pendekatan psikologis dapat memberikan umpan balik kepada penulis atau pengarang mengenai masalah dalam pengembangan perwatakan yang dilakukannya dalam karya ciptaannya.
Ø  Kelemahan psikologi sastra
Setiap metode pendekatan yang digunakan pastinya akan memiliki sisi kelemahan begitu juga dengan penggunaan psikologi untuk pendekatan terhadap sastra. Kelemahan tersebut yaitu:
  • Memerlukan pengetahuan mengenai ilmu psikologi yang luas, jika tidak pendekatan ini sulit untuk dijalankan dengan lancar.
  • Sulit untuk mengetahui kaitan antara satu tokoh dengan tokoh lainnya karena tokoh bukan merupakan makuk yang hidup dan tidak bisa ditanyai, sedangkan sang pengarang seringkali tidak mau memberi komentar atas karyanya.
  • Sulitnya menalar dan memecahkan hal – hal yang abstrak karena tidak adanya keterangan yang diberikan oleh penulis mengenai motif atau perilaku sang tokoh
  • Tidak mudah untuk mendapatkan pengetahuan apakah pengalaman yang menimpa tokoh cerita juga merupakan pengalaman pribadi sang pengarang atau bukan.
  1. Sastra dan filsafat (pemikiran)
Hubungan sastra dan filsafat laksana dua sisi mata uang; permukaan yang satu tidak dapat dipisahkan dari permukaan yang lainnya; bersifat komplementer, saling melengkapi. Masalahnya, karya sastra membicarakan dunia manusia. Demikian juga filsafat, betapapun penekanannya pada usaha unutuk mempertanyakan hakikat dan keberadaaan manusia, sumbernya tetap bermuara pada manusia sebagai objeknya. Jika demikian apakah apakah kemudian itu berarti karya sastra identik dengan filsafat? Tentu saja tidak. Mengapa tidak? Di mana pula letak persamaan dan perbedaannya? Justru dalam hal itulah hubungan sastra dengan filsafat lalu melahirkan masalah sendiri.
Secara asasi, baik karya sastra maupun filsafat, sebenarnya merupakan refleksi pengarang atas keberadaan manusia. Hanya, jika karya sastra merupakan refleksi evaluatif, maka filsafat merupakan refleksi kritis. Apa yang diungkapkan filsafat adalah catatan kritis yang awal dan akhirnya ditandai dengan pertanyaan radikal yang menyangkut hakikat dan keberadaan manusia. Itulah, di antaranya, yang membedakan karya sastra dan filsafat.
Masalah hubungan sastra dan filsafat sesungguhnya bukanlah masalah baru. Sejak manusia mengenal cerita-cerita mitologis, sejak iu pula sesungguhnya hubungan sastra dengan filsafat — dalam pengertian yang lebih luas — sulit dipisahkan

Referensi:
Darma, Budi.Pengantar Teori Sastra.Pusat Bahasa:Jakarta.2004.
                          
Darma, Budi.Pengantar Teori Sastra.Pusat Bahasa:Jakarta.2004.
                         

SASTRA LISAN


Istilah sastra lisan dalam bahasa indonesia berasal dari bahasa inggris oral literature . Ada juga mengatakan bahwa istilah berasal dari bahasa belanda orale letterkunde. Kedua pendapat ini di benarkan, tetapi yang menjadi soal adalah istilah itu dalam dirinya sendiri sebenarnya mengandung kontradiksi (Pinnegan, 1997: 1667), sebab literature (sastra) merujuk pada kata literae, yang bermakna “letters”.
Yang dinamakan sastra lisan adalah kesusastraan yang mencangkup ekspresi kesusastraan warga suatu kebudayaan yang di sebarkan dan diturun-temurunkan secara lisan (dari mulut ke mulut). Dengan begitu, apa yang dinamakan kesusastraan , yang dulu barati as “anything written” (Sylvan Barnat, 1963: 1).



A.  Pengertian Sastra Lisan
   Sastra lisan adalah berbagai tuturan verbal yang memiliki ciri-ciri sebagai karya sastra pada umumnya, yang meliputi puisi, prosa, nyanyian, dan drama lisan. Sastra lisan (oral literature) adalah bagian dari tradisi lisan (oral tradition) atau yang biasanya dikembangkan dalam kebudayaan lisan (oral culture) berupa pesan-pesan, cerita-cerita, atau kesaksian-kesaksian ataupun yang diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi lainnya (Vansina, 1985: 27-28).
    Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan yang jelas bahwa sastra lisan itu sekumpulan karya sastra atau teks-teks lisan yang memang disampaikan dengan cara lisan, atau sekumpulan karya sastra yang bersifat dilisankan yang memuat hal-hal yang berbentuk kebudayaan, sejarah, sosial masyarakat, ataupun sesuai ranah kesusasteraan yang dilahirkan dan disebarluaskan secara turun temurun, sesuai kadar estetikanya.

B.  Jenis-Jenis Sastra Lisan
1. Prosa
     Kata prosa berasal dari bahasa latin “prosa” yang artinya terus terang. Prosa adalah suatu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena variasi ritme yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya. Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya prosa dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya. Prosa biasanya dibagi menjadi empat jenis : prosa naratif, prosa deskriptif, prosa eksposisi, dan prosa argumentatif. Dalam kaitannya dengan karya sastra, prosa yang lebih tepat adalah prosa naratif. Prosa naratif yang umum kita temui adalah cerpen dan novel.
2. Puisi
Puisi adalah karya yang sejak dlu telah benar-benar dianggap sebagai karya sastra yang sejati. Dibandingkan dengan prosa dan drama puisi telah lebih dulu ada dan dianggap karya sastra sesungguhnya. Dilihat dari sifatnya, puisi merupakan karya rekaan yang bersifat monolog. . Sementara itu, jika dilihat dari bentuknya, puisi juga dapat dibedakan dengan karya lain terutama prosa. prosa biasanya dibangun oleh paragraf-paragraf dan ujaran tokoh sedangkan puisi berbentuk bait-bait atau ayat. Puisi sangat mengandalkan pencitraan, pilihan kata yang tepat, dan metafora. Puisi pada umumnya mengungkap suatu ide atau gagasan umum dan luas dengan ungkapan yang singkat dan simbolik. Menurut zaman dan karakteristiknya, puisi dibedakan atas puisi lama dan puisi baru.
a. Puisi Lama                                               
Ciri-ciri puisi lama:
  1. Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya.
  2. Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan.
  3. Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima.
Yang termasuk ke dalam puisi lama ialah mantra, pantun, karmina, bidal, gurindam, syair dan talibun.
b. Puisi Baru                                               
Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama, baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima. Menurut isinya, puisi baru dibedakan atas: balada, himne, ode, romansa, elegi dan satire.


C. Unsur-Unsur Sastra Lisan 
Secara intrinsik, unsur-unsur sastra lisan itu bertemakan tentang kehidupan, sebuah cerita yang memang dapat diambil pelajaran yang berharga. Selanjutnya, tokoh yang sering digunakan ialah sepasang suami istri yang memilikiaanak., Tentu di sastra lisan akan melahirkan amanat yang berkesan di hati penontonnya sebab menyangkut pada kejadian di lingkungan dan kehidupan masyarakat itu sendiri.
D. Fungsi Sastra Lisan
Fungsi saatra lisan di masyarakat itu dapat di lihat sebagai berikut:
  • Pertama, berfungsi sebagai system proyeksi.
  • Kedua, berfunsi untuk mengesahkan kebudayaan,
  • Ketiga, sebagai alat pemaksa berlakunya norma-norma sosial dan sebagai alat pengendali sosial.
  • Keempat, sebagai alat pendidikan anak.
  • Dalam sasra lisan jawa ada sebuah tembang (nyanyia) yang berhubungan nama-nama jari tangan kita. Sebagai kita ketahui, nama-nama jari tangan kita terdiri dari:
1. Jari kelingking (jentik atau enthik)
2.  jari manis (jentik manis)
3.  jari tengah (penuggul)
4.  jari telunjuk (penuding)
5. ibu jari (jempol)
Kelima, jari tangan kita menurut orang jawa stu sama lain mempunyai ikatan persaudaraan dan jari tangan kita itu digunakan untuk pendidikan untuk anak-anak kita. Dalam ini, anak-anak di ajari untuk menghormati orang tua. Baik orang tua sendiri maupun orang-orang yang di anggap tua. Pokoknya, orang tua harus di hormati.
·      Keenam, untuk memberi jalan kepada seseorang agar dia dapat mencela orang lain. Hal ini tampak dalam peribahasa-peribahasa yang berisi sindiran dan celaan.
·      Ketujuh, Sebagai alat untuk memprotes ketidakadilan dalam masyarakat dan akhirnya, fungsi kedelapan sastra lisan di masyarakat .
·       Dan akhirnya fungsi kedelapan sastra lisan adalah untuk melarikan diri dari himpitan hidup sehari hari. Dengan perkataan lain, untuk hiburan semata.

FIKSI DAN UNSUR-UNSUR PEMBANGUNNYA

fiksi adalah cerita rekaan atau khayalan yang berdasarkan imajinasi prngarang. Kebenaran dalam dunia fiksi adalah kebenaran y...