Selasa, 12 Mei 2020

DRAMA DAN UNSUR PEMBANGUNNYA



Secara etimologis, kata “drama” berasal dari yunani “dran” yang berarti berbuat. Orang yunani menyebut kata drama “draomai” berarti perbuatan meniru. Menurut morris, “drama term derived from greek verbs, ‘dran ‘ meaning ‘act’ to ‘do’ maksudnya adalah drama dari kata kerja dran yang berarti berbuat.[1] Drama adalah karya sastra yang ditulis dalam bentuk dialog dengan maksud dipertunjukkan.[2] Secara sederhana, makna dapat pula bermakna peran.

Unsur-Unsur Drama

 unsur-unsur drama  ialah bagian terkecil atau pendukung dalam suatu pementasan drama yang membantu agar pementasan tersebut dapat berjalan dengan baik dan memiliki kedan tersendiri bagi penonton. Dalam suatu pementasan tanpa adanya unsur-unsur pendukung maka pementasan tersebut tidak akan menarik dan terkesan tidak natural atau tidak realis. Pada kenyataannya dalam setiap unsur-unsur pementasan memiliki peran penting bagi actor drama tersebut Karena setiap unsur-unsur pementasan memiliki peran penting bagi actor drama tersebut karena setiap actor menjalankan perannya maka actor tersebut harus memiliki motivasi dalam bertindak dan berfikir secara logis dalam menggunakan unsur-unsur tersebut.[3]


C.    Unsur Intrinsik Drama
Adalah unsur-unsur pembentuk drama dari dalam. komponen-kompenen yang termasuk sebagai unsur intrinsik drama antara lain adalah:
1.      Tema
Tema dalam drama merupakan salah satu unsur intrinsik drama.
2.       Alur
 Yang dimaksud alur dalam drama adalah jalan cerita dari sebuah pertunjukkan drama mulai babak pertama hingga babk terakhir. Alur disebut juga dengan istilah plot.
3.      Tokoh
            Yang dimaksud tokoh yaitu pemeran yang ada dalam cerita. Tokoh dibedakan menjadi beberapa jenis misalnya seperti tokoh protagonist atau tokoh utama serta tokoh figuran yang menjadi peran pembantu.
Terdapat pula unsur penokohan atau perwatakan. Unsur ini dapat dilakukan dengan menyebutkan langsung didalam cerita (analitik) maupun tidak langsung (dramatik).
4.      Latar/setting
            Latar terdiri dari latar tempat untuk menggambarkan lokasi drama, latar waktu untuk memberi info kapan terjadinya adegan dalam drama serta latar situasi untuk menjelaskan suasana dalam cerita di drama tersebut.
5.      Dialog
            Dialog merupakan serangkaian percakapan dalam cerita. Cialog bisa terdiri satu tokoh denga  tokoh lain, bisa juga berupa dialog sendiri atau disebut sebgai monolog, adanya dialog memberi penjelasan terkait jalannya cerita, biasanya juga disertai gaya atau mimic wajah.
6.      Bahasa
            Bahasa merupakan kata-kata yang digunakan dalam percakapan cerita drama. Bahasa juga bisa menggambarkan watak tokoh, latar, maupun peristiwa yang sedang terjadi.
7.      Konflik
            Konflik adalah pertentangan atau masalah yang terjadi pada suatu drama. Adanya konflik menjadi inti permasalahan yang ada dalam drama. Dalam sebuah drama bisa terjadi 1 konflik atau bahkan lebih.
8.      Amanat
            Yang tak kalah penting dalam unsur-unsur drama adalah amanat. Yang dimaksud amanat adalah pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada penonton. Amanat drama atau pesan disampaikan melalui peran para tokoh dalam cerita drama.

D.    Unsur ekstrinsik drama
Merupakan unsur-unsur pembentuk drma dari luar. Komponen-komponen yang termasuk sebagai unsur ekstrinsik drama antara lain adalah:
1.      Latar belakang pengarang
2.      Nilai agama dan kepercayaan
3.      Kondisi politik Negara
4.      Psikologis pengarang
5.      Situasi sosial budaya
Hal-hal diatas termasuk unsur ekstrinsik drama, hal-hal tersebut menjadi faktor luar yang mempengaruhi dibuatnya suatu drama.



[1] Emzir Dan Saifur Rohman, Teori Dan Pengajaran Sastra, Cet. Ke-2 (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2016). hlm. 262
[2] Dosen Pendidikan, Makalah Pengertian Drama Diakses Dari Https://Www.Dosenpendidikan.Co.Id/Pengertian -Drama/2013 Pada Tanggal 8 April 2020 Pukul 16:00 Wib.
[3] Nishpi mln, makalah unsur-unsur drama diakses dari https://www.academia.edu/38172886/unsur-unsur_drama pada tanggal 10 april 2020 pukul 20:34

Puisi dan unsur-unsur Pembangunnya


Puisi merupakan salah satu karya yang dapat dikaji dari bermacam-macam aspek. puisi dapat dikaji dari struktur dan unsur-unsurnya, mengingat bahwa puisi merupakan struktur yang tersusun dari bermacam unsure atau ragam.
            Ahli-ahli sastra banyak yang membedakan dan membagi perpuisian Indonesia menjadi puisi lama dan puisi baru.
1.      Pengertian Puisi

Secara etimologi, kata puisi dalam bahasa yunani yaitu poesis ynag artinya penciptaan.  Adapun puisi adalah bentuk karya sastra yang terikat oleh irama, rima dan penyusun bait dan baris yang bahasanya terlihat indah dan penuh makna.
puisi ini terdiri dari puisi lama dan puisi baru. puisi lama adalah pantun dan syair. sedangkan puisi baru tidak terikat pada bait, jimlah baris, atau sajak dalam penulisannya. sehingga puisi baru disebut puisi bebas.
Shahnon Ahmad(dalam pradopo, 1993;6) mengumpulkan definisi puisi yang pada umumnya dikemukakan oleh para penyair romantic inggris sebagai berikut.
1.      Samuel Taylor Coleridge
Mengatakan puisi adalah kata-kata yang terindah dari susunan yang terindah. penyair memilih kata-kata yang sangat tepat dan disusun dengan sebaik-baiknya. misalnya seimbang, simetris, antara satu unsure dengan unsure lainnya yang erat hubungannya dan sebagainya.
2.      Carlyle
 Mengatakan puisi adalah pemikiran yang bersifat musical. penyair menciptakan puisi itu dengan memikirkan bunyi-bunyi yang merdu seperti music dalam puisinya. kata-kata yang juga dibuat dengan begitu rupa adalah dengan rangkaian bunyinya yang merdu seperti music, yaitu dengan menggunakan orchestra bunyi.
3.      Wordswort
 Mengatakan bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang di angankan. adapun Auden mengemukakan bahwa puisi itu pernyataan perasaan yang bercampur baur.
4.      Dunton
 Berpendapat dengan mengatakan puisi itu merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistic dalam bahasa emosional serta berirama. misalnya denagn kiasan, dengan citra-citra, dan disusun secara artistic dan bahasa nya penuh perasaan, serta berirama seperti music.
5.      Shelley
Mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup. misalnya saja peristiwa-peristiwa yang sangat mengesankan dan menimbulkan keharuan yang sangat kuat seperti kebahagiaan, kegembiraan yang memuncak, percintaan, bahkan kesedihan karena kematian orang yang sangat dicintai. semuanya merupakan detik-detik yang paling indah untuk direkam.
Dari definisi-definisi diatas Shahnon Ahmad menyimpulkan bahwa pengertian puisi diatas terdapat garis-garis  besar tentang puisi itu sebenarnya. unsure-unsur itu berupa emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan pancaindra, susunan kata, kata kiasan, kepadatan dan perasaan yang bercampur-baur.
Adapun unsure-unsur pembangunnya terdiri dari dua yaitu :
A.    Unsur Interinsik Puisi
Puisi merupakan sebuah karya sastra yang memadukan keindahan bunyi dan kata dengan makna yang cukup banyak.adapun unsure pembangunnya:
a.       Tema
merupakan dasar seorang penyair dalam membuat puisinya.
b.      Rasa
Merupakan perasaan sang penyair ketika menulis atau membaca puisi.
c.       Gaya Bahasa
Merupakan pemilihan kata atau diksi untuk menunjukkan keindahan dalam suatu puisi dan untuk memberikan efek seribu makna pada puisi yang dibuat oleh penyair.

d.      Imujinasi
Merupakan gaya pembawaan dalam pembacaan puisi dimana sang penyair akan larut dalam puisinya.
e.       Rima dan Irama
Merupakan pemilihan kata pada bagian akhir baris puisi.
f.       Amanat
Merupakan pesan yang ingin disampaikan penyair kepada pendengar atau pembaca puisi.
B.     Unsure Bahasa Puisi
Puisi memiliki beberapa unsure kebahasaan yang digunakan untuk manambah indah dan membuat makna lebih dalam.

1.      Tipografi
Merupakan bentuk tulisan puisi tersebut. menjadi hak penyair bagaimana puisinya ditulis. apakah rata tengah, rata kanan, dibentuk hati, dibentuk daun, atau dibentuk benda lainnya.
2.      Diksa
Merupakan pemilihan kata dimana seorang penyair akan memilih kata yang tepat dan memiliki seribu makna untuk emwakili perasaannya.

3.      Konotasi
Merupakan makna yang tidak sebenarnya atau tidak sesuai dengan arti kata dengan kamus. contoh :’hatiku seperti terbakar’. jika makna terbakar aslinya adlah terkena api. maka makna terbakar dalam kutipan tersebut adlah sangat marah sekali.

4.      Lambang/ Simbol
Sebuah kata biasa untuk menyembunyikan makna sesungguhnya dari puisi tersebut. contoh ‘ini sisirku’. sisir melambangkan sebuah kebanggan bagi sang penyair.

5.      Rima
Merupakan pemilihan kata yang bisa memperindah bunyi apabila dibacakan. contoh : hatiku akan sedih melihatmu terlatih diujung rintih.

6.      Majas
Merupakan gaya bahasa yang digunakan dalam puisi. total kesulurhan majas  adalah 54 buah. majas yang paling sering muncul dalam sebuah puisi, yaitu metafora  ( majas perbandingan langsung contoh perasaanku jernih seperti embun pagi), simile (majas yang menggunakan kata bagai, seperti , bak, dan sejenisnya, contoh: kau cantik seperti bidadari), personifikasi (majas memanusiakan benda mati, contoh: batu itu berbicara), dan hiperbola (majas melebih-lebihkan, contoh :perutku teramat amat sakit).

7.      Pencitraan
Merupakan makna atau gambaran yang didapatkan melalui kata yang digunakan yang seakan-akan indra dari dari pembaca atau pendengar juga melakukan apa yang terdapat dalam puisi. pencitraan dalam puisi terbagi menjadi pencitraan pendengar, penglihat, pengecap, pembau dan gerak.


 puisi:

Suatu kekaguman
Suatu ketika akan terbuang
Tergilas rakusnya kepergian
Hingga jejak pun tak tersisakan
Pun ingatan berlangsung pudar
Tertindas oleh perpisahan yang kejam
Kenangan yang hingga kini terukir
Pada rindu yang riuh memanggil
Tentang rindu ini
Kupinta doa
Kurajut dalam untaian kata
Teranngkum dalam segenap tabah yang ada
Meski hari gelap gulita
Percik cahayaku terasa surga
Kesendiriannya dalam genggam berpinta
Untuk menjadi seutuhnya.

_rennyfqt




Referensi:
Sutarno, ;”cermat berbahasa Indonesia”;,2019
www.academia.com
http://puisi dan unsure pembangunnya.co.id 

HAKIKAT Dan Fungsi sastra

Sastra merupakan salah satu bentuk komunikasi yang penyampaiannya disampaikan melalui bahasa. Dalam hal ini, sastra selain menyajikan nilai-nilai keindahan serta paparan peristiwa, juga mampu membawa seseorang untuk menghayati ataupun menemukan nilai-nilai secara mendalam. Bisa dikatakan bahwa sastra merupakan suatu pengungkapan kehidupan lewat bentuk bahasa. Karya sastra sudah diciptakan jauh sebelum orang memikirkan apa hakikat sastra dan apa sifat maupun fungsi yang terkandung dalam sastra. Sebaliknya setelah terciptanya sastra, baru dimulailah orang bertanya apa itu sastra, hakikat sastra, sifat sastra dan sebagainya.
Sebagaimana dalam perkembangannya sastra selalu menghadirkan hidup dan kehidupan di masyarakat. Lewat sastra dapat diketahui pandangan suatu masyarakat, sastra juga mewakili kehidupan dalam arti kenyataan social. Disini saya akan menjelaskan sedikit Pengetahuan tentang  hakikat sastra, sifat sastra, dan fungsi serta manfaat dalam kehidupan sehari-hari. 



A.         Definisi Dan Hakikat Sastra

Kata sastra itu  berasal dari bahasa jawa kuna yang berarti tulisan. Istilah dalam bahasa jawa kuna berarti “tulisan-tulisan utama”[1]. Yang dimaksud tulisan tulisan utama bisa jadi tulisan yang memiliki keindahan. Sementara itu, kata “sastra” dalam khazanah jawa kuna berasal dari bahasa sansekerta yang berarti kehidupan. Dalam kata “sastra” (Sanskerta: ΰ€Άाΰ€Έ्ΰ€€्ΰ€°, shastra)[2] merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta śāstr adalah bentukan dari akar kata ‘sas’ yang berarti mengarahkan, mengajar atau memberi petunjuk atau istruksi. Sementara itu, akhiran tra biasanya menunjukkan alat atau sarana. Dengan demikian sastra berarti alat atau sarana untuk mengajar.
Terdapat banyak batasan Mengenai definisi sastra, antara lain:
a.     Sastra adalah seni.
b.    sastra adalah ungkapan spontan dari perasaan yang mendalam.
c.   sastra adalah ekspresi pikiran dalam bahasa, sedang  yang dimaksud  dengan pikiran adalah pandangan, ide-ide, perasaan pemikiran, dan semua kegiatan mental manusia.
d. sastra adalah inspirasi kehidupan yang dimaterikan  (diwujudkan) dalam sebuah bentuk yang mempesona.

Berikut ini pengertian sastra menurut para Ahli:       
a. Menurut djoko damono (1979)
yang memaparkan bahwa sastra adalah lembaga social seperti Masyarakat social yang menggunakan bahasa sebagai medium, bahasa itu sendiri merupakan hasil ciptaan social. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah kenyataan social. Dalam pegertian ini mencakup hubungan antar masyarakat, antara masyarakat dengan orang—seorang, antarmanusia, dan antarperistiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Bagaimanapun juga, peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang, yang sering menjadi bahan sastra, adalah pantulan hubungan seseorang dengan orang lain atau dengan masyarakat[3].
b. George lukas
berpendapat bahwa sastra merupakan sebuah cermin yang memberikan kepada kita sebuah refleksi realitas yang lenih besar, lebih lengkap, lebih hidup, dan lebih dinamik.
                             C. .Rene wellek dan Austin werren
Dalam teori kesustraannya menyebutkan bahwa satra adalah segala  sesuatu yang tertulis atau              tercetak.
                              d.  Mursal Esten (1978 : 9)
 Sastra atau Kesusastraan adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai                   manifestasi kehidupan manusia. (dan masyarakat) melalui bahasa sebagai medium dan memiliki efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan).[4]
c                  e. Semi (1988 : 8 )
Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya menggunakan bahasa sebagai mediumnya.
d                 F.   Panuti Sudjiman (1986 : 68)
Sastra sebagai karya lisan atau tulisan yang memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keorisinalan, keartistikan, keindahan dalam isi, dan ungkapanya.
                    g.    Ahmad Badrun (1983 : 16)
Kesusastraan adalah kegiatan seni yang mempergunakan bahasa dan garis simbol-simbol lain sebagai alai, dan bersifat imajinatif.
f.                           h.  Eagleton (1988 : 4)
Sastra adalah karya tulisan yang halus (belle letters) adalah karya yang mencatatkan bentuk bahasa. harian dalam berbagai cara dengan bahasa yang dipadatkan, didalamkan, dibelitkan, dipanjangtipiskan dan diterbalikkan, dijadikan ganjil.
g                  i.   Plato
Sastra adalah hasil peniruan atau gambaran dari kenyataan (mimesis). Sebuah karya sastra harus merupakan peneladanan alam semesta dan sekaligus merupakan model kenyataan. Oleh karena itu, nilai sastra semakin rendah dan jauh dari dunia ide. 
h               i.   Aristoteles
                  Sastra sebagai kegiatan lainnya melalui agama, ilmu pengetahuan dan filsafat.
     j.   Robert Scholes (1992: 1)
 berpendapat bahwa tentu saja, sastra itu sebuah kata, bukan sebuah benda.
j.                        k. Sapardi (1979: 1)
Memaparkan bahwa sastra itu adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium. Bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan social.
k                       L.  Taum (1997: 13)
Sastra adalah karya cipta atau fiksi yang bersifat imajinatif” atau “sastra adalah penggunaan bahasa yang indah dan berguna yang menandakan hal-hal lain”
Dapat disimpulkan bahwa sastra adalah suatu bentuk, baik itu berupa benda ataupun tulisan yang memiliki nilai keindahan.

B.  Sifat Sastra

Sifat-sifat khas sastra muncul sangat jelas bila dilihat dari aspek referensialnya (acuan), yaitu :
a.       dunia fiksi atau imajinasi.
b.      Fiksionalitas
c.       Ciptaan
d.      Kreasi

C.  Fungsi sastra

Fungsi sastra harus sesuai dengan sifatnya yakni menyenangkan dan bermanfaat. Kesenangan yang tentunya berbeda dengan kesenangan yang disuguhkan oleh karya seni lainnya. Kesenangan yang lebih tinggi, yaitu kontemplasi yang tidak mencari keuntungan. Dan juga memberikan manfaat keseriusan. Keseriusan yang menyenangkan, estetis dan keseriusan persepsi. Sehingga ini berarti karya sastra tidak hanya memberikan hiburan kepada peminatnya tetapi juga tidak melupakan keseriusan pembuatnya.
Selain menampilkan unsur keindahan, hiburan dan keseriusan, karya sastra juga cenderung membuktikan memiliki unsur pengetahuan.
Berikut ini merupakan fungsi-fungsi sastra menurut para ahli:[5]
a.       Budianta, dkk. Berpendapat bahwa sastra berfungsi memberikan kesenangan atau kenikmatan kepada pembacanya. Kadang-kadang dengan membaca sastra justru muncul ketegangan-ketegangan, dan dari ketegangan-ketegangan itulah diperoleh kenikmatan estetis yang aktif. Adakalanya dengan membaca sastra kita terlibat secara total dengan apa yang dikisahkan. Dalam keterlibatan itulah justru kemungkinan muncul kenikmatan estetis dan bersifat menghibur. Menghibur bukan berarti membuat terpingkal-pingkal  karena fidak dapat menahan tawanya. Namun, lebih pada kepuasan batin ketika mengikuti alur cerita atatu menikmati keindahan penggunaan bahasa dalam memaparkan aspek-aspek kehidupan. Memang ada pengarang yang mempersentasikan karyanya sebgai hiburan dalam artian membuat pembaca hanyut dalam tawanya. Namun karya-karya seperti ini justru dicap sebagai bukan sastra.
b.      Luxemberg, dkk. Berpendapat bahwa Sastra berfungsi memberikan kebermanfaatan secara rohaiah. Dengan membaca sastra, kita memperoleh wawasan yang dalam tentang masalah manusiawi, social, maupun intelektual dengan cara yang khusus
c.       Herman J. Waluyo. Menyatakan bahwa sastra berfungsi sebagai wahana katarsis, yaitu pencerahan jiwa atau penyadaran jiwa terhadap lingkungan masyarakat terhadap keterbatasan individu yang seringkali melabrak posisi tuhan.
d.      Wellek dan Warren(26) menjelaskan bahwa fungsi sastra dalah sebagai berikut:[6]
a). Sebagai hiburan. Karya sastra adalah “pemanis” dalam kehidupan masyarakatsebab memberikan fantasi-fantasi yang menyenangkan bagi si pembaca. Karena seabagai hiburan, dampak yang diperoleh adalah rasa senang.
b). Sebagai renungan. Karya sastra difungsikan sebagai media untuk merenungkan nilai-nilai terdalam dari pembaca. Karena karya sastra berisi pengamalan-pengalaman manusia, maka pengalaman itu diungkapkan sedemikian rupa untuk memperoleh sari pati yang diinginkan.
c).  Sebagai bahasan pelajaran. Karya sastra difungsikan ditengah-tengah masyarakat sebagai media pembelajaran bagi masyarakat. Karya sastra menuntun individu untuk menemukan nilai yang diungkapkan sebagai benar dan salah. Karya sastra dikatakan sebagai “indah dan berguna” atau dulce et utile.
d)  Sebagai media komunikasi simbolik. Luxemburg menyatakan bahwa karya seni adalah sebuah media yang dipergunakan untuk menjalin hubungan dengan dunia dan sekitarnya. Karena ini komunikasi simbolik, maka para penerima tidak bisa langsung menerjemahkan kata sebagaimana denotative, tetapi harus menggunakan instrument konotatif.
             e). Sebagai pembuka paradigma berfikir. Sastra menurut bronowski dijadikan sebagai media                    untuk membuka cakrawala masyarakat yang terkungkung oleh semangat zaman yang                          tidak disadarinya. Sastra menyadarkan masyrakat yang selama ini merasa berada dalam                        kenyataan yang sesungguhnya padahal sebetulnya hanya berada pada pada intensitas                            yang  mirip dengan kenyataan (kuasi-kenyataan).


[1] Emzir dan Saifur Rohman, Hakikat Dan Fungsi Sastra, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2015), hlm.5
[2] Wikipedia “Sastra”, di akses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Sastra, pada tanggal 24 Februari 2020 pukul 16.35 WIB
[3] Endah Tri Priyatni, Membaca Sastra Dengan Ancaman Literasi Kritis, cet. Ke-2, (Jakarta: PT  Aksara), hlm.12
[4] Hasansadili. “Pengertian Karya Sastra Menurut Para Ahli”, diakses dari https://www.seputarpengetahuan.co.id/2016/06/pengertian-sastra-menurut-ahli-beserta-ciri-dan-fungsi-sastra-lengkap.html, pada tanggal 16 Februari 2020 pukul  20:00 wib.
[5] Endah Tri Priyatni, Membaca Sastra Dengan Ancaman Literasi Kritis, hlm.21.
[6] Emzir dan Saifur Rohman. , Hakikat Dan Fungsi Sastra, hlm.9

FIKSI DAN UNSUR-UNSUR PEMBANGUNNYA

fiksi adalah cerita rekaan atau khayalan yang berdasarkan imajinasi prngarang. Kebenaran dalam dunia fiksi adalah kebenaran y...